Sabtu, 20 September 2014

Suplemen Untuk Fotografi Jurnalistik (1) - Kamera “Mammoth” Panjangnya Lima Meter Lebih



Suplemen (tambahan): untuk Pertemuan ke-1
Kamera “Mammoth”
Panjangnya Lima Meter Lebih

PARA pecinta fotografi di era digital ini telah mendapatkan banyak kemudahan. Dewasa ini kamera bisa dengan mudah dibawa ke mana-mana. Ukurannya yang kecil dan praktis membuat kamera tak perlu lagi dimasukkan ke dalam tas besar, tapi bisa dimasukkan ke dalam saku celana saja. Tetapi, pernahkah Anda bayangkan betapa repotnya para fotografer atau pecinta fotografi di tahun-tahun awal perkembangan teknologi fotografi tersebut?
Sejarah perjalanan fotografi tidak bisa lepas dari peran Al-Hazen, seorang ilmuwan Arab. Pada abad ke-10, Al-Hazen sudah menjelaskan prinsip-prinsip tehnik fotografi yang sederhana, melihat gerhana matahari melalui media ruangan gelap yang di dalamnya terdapat lubang kecil. Prinsip-prinsip Al-Hazen itu kemudian dikembangkan secara lebih detail lagi oleh Remerus Gemma-Frisius (1544), seorang ahli fisika berkebangsaan Belanda. Apa yang dikemukakan Al-Hazen dan kemudian dikembangkan Reinerus Gemma-Frisius itu kemudian terwujud di dalam kamera yang disebut kamera abscura.
Sejak prinsip-prinsip fotografi dinyatakan Al-Hazen di abad ke-10, kemudian diikuti perkembangannya yang pesat pada abad ke-19, hingga hari ini fotografi tidak pernah berhenti memainkan perannya bagi kepentingan kehidupan manusia. Eksistensi fotografi yang semakin nyata bagi kehidupan manusia ini tidak bisa lepas dari jasa dua orang Perancis, Nicephore Niepce dan Jacques Mande Daguerre yang sejak 1811 telah berupaya menciptakan serta mengembangkan teknologi fotografi tersebut.
Dari tahun ke tahun fotografi terus berkembang. Tahun 1840 Fiedrich Voigtlander berhasil membuat kamera metal yang pertama. Kemudian di tahun 1884, seorang ilmuwan Amerika bernama George Eastman menemukan film fotografi yang menggunakan seluloid yakni bahan plastik pertama buatan manusia. Seluloid ini pertama kali ditemukan Alexander Parkes, ahli kimia Inggris, di tahun 1856.
Keberhasilan Eastman tidak berhenti di situ. Tahun 1891, bersama mitra kerjanya Hannibal Goodwin, ia telah memperkaya dunia fotografi lagi dengan memperkenalkan satu rol film yang dimasukkan ke dalam kamera. Sebelum itu pada bulan Juni 1888, Eastman telah memperkenalkan pula kamera berukuran kecil yang disebutnya kotak “Kodak”.

Kamera Besar
Tapi teknologi fotografi di masa itu masih belum menemukan tehnik pembesaran foto. Kamera atau “Kodak” temuan Eastman hanya bisa menghasilkan foto atau gambar dalam ukuran kecil saja. Sejumlah upaya pembesaran foto telah dilakukan, tapi hasilnya mengecewakan. Gambarnya selalu kabur.
Para ilmuwan fotografi masa itu kemudian menemukan cara, untuk membuat foto besar maka harus digunakan kamera yang besar pula.Hal itulah yang kemudian dilakukan. Sekitar tahun 1900 sejumlah ilmuwan fotografi di Amerika Serikat membuat kamera besar yang ukuran panjangnya lebih dari lima meter. Kamera raksasa ini diberi nama “The Mammoth”.
                                              Kamera "The Mammoth" (www.historiccamera)

Kamera “The Mammoth” ini dibuat berdasarkan pesanan dari perusahaan kereta api “Chicago and Alton Railroad Company”. Perusahaan kereta api itu ingin membuat foto rangkaian kereta api mewah baru yang akan diluncurkan dalam ukuran besar.
Penggunaan kamera “The Mammoth” untuk memotret kereta api mewah di stasiun kereta api itu telah mengerahkan tenaga lebih dari duapuluhlima orang. Untuk membawa kamera raksasa seberat 700 kilogram itu ke lokasi pengambilan gambar diperlukan setidaknya tenaga sepuluh orang.
Kamera itu ditempatkan di atas panggung yang terbuat dari kayu. Ketika kamera sudah di atas panggung, diperlukan beberapa orang untuk siaga menjaga agar kamera tidak terguling atau terjatuh dari atas panggung. Seorang bertugas sebagai pembidik sekaligus pemejet tombol penutup rana, seorang lagi bertugas di lensa (cincin lensa), dan ada juga yang bertugas untuk memberi aba-aba. 
Sungguh, betapa repotnya kala itu hanya untuk membuat gambar sebuah kereta api.
                                                                              Sutirman Eka Ardhana

Fotografi Jurnalistik (1) - MEMAHAMI FOTOGRAFI



Pertemuan ke-1

MEMAHAMI FOTOGRAFI

        Sejarah Fotografi

        FOTOGRAFI  bermula dari kata photos dan graphos,  yang merupakan bahasa Yunani. Photos berarti cahaya, sedangkan graphos artinya menulis. Jadi, fotografi secara  harafiah berarti ‘menulis dengan cahaya”. Arti harafiah ini bisa dikembangkan lagi menjadi “bercerita derngan cahaya” atau “melukis dengan cahaya”. Namun di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa fotografi adalah suatu seni atau proses penghasilan gambar dan cahaya pada film atau permukaan yang dipekakan.

            Fotografi memang  tidak bisa dipisahkan dengan kerja seni. Sebab, karya fotografi apa pun bentuk dan obyeknya merupakan media ekspresi diri. Sebagai bagian dari bidang seni, fotografi memiliki kesamaan dengan seni lukis, yakni sama-sama  merupakan media  penyampaian ekspresi  Perbedaannya hanya pada media atau sarana yang dipakai. Karya seni lukis memakai media dan sarana seperti kanvas, kuas dan cat, sementara  fotografi memakai cahaya, film dan kamera. Dengan kata lain, bila seni lukis  adalah melukis dengan cat, sedangkan fotografi ‘melukis dengan cahaya’.
            Bila ingin memahami fotografi, haruslah diawali lebih dulu dengan langkah untuk memahami sejarah panjang perjalanan fotografi. Sebagai bagian dari ilmu  pengetahuan, ilmu fotografi yang di dalamnya terdapat seni mendokumentasikan perisatiwa demi peristiwa, sesungguhnya sudah berusia  sangat tua. Usia ilmu fotografi sama tuanya dengan usia peradaban manusia.
            Manusia-manusia prasejarah dalam peradabannya ketika itu sudah menemukan iilmu  fotograf tersebut  Hal itu terbukti dari peninggalan-peningggalan masa prasejarah di gua-gua kuno yang berwujud goresan-goresan atau lukisan-lukisan di dinding-dionding batu gua. Misalnya gua Lascaux, gua kuno yang terdapat di Perancis, di dalamnya terdapat ‘karya dokumentasi sejarah tak ternilai harganya’ berupa  lukisan-lukisan  tentang bagaimana manusia prasejarah berburu binatang, berperang, tentang senjata-senjata yang dimiliki sampai  busana atau pakaian yang dikenakan.
            Sejarah perjalanan  fotografi  tidak bisa dilepaskan dari peran seorang ilmuiwan Arab yang bernama Al-Hazen. Pada abad ke-10, Al-Hazen sudah mengutarakan penemuannya mengenai  tehnik fotografi yang  sederhana, yakni melihat gerhana matahari melalui media ruangan gelap yang di dalamnya terdapat  lubang kecil (pinhole). Pernyataan atau penjelasan Al-Hazen itu kemudian dikembangkan secara lebih nyata lagi oleh seorang ahli fisika dan mate,matika  berkebangsaan Belanda, Reinerus Gemma-Frisius (1544), seorang ahli fisika dan matematika berkebangsaan Belanda. Apa yang dikemukakan Al-Hazen dan dikembangkan oleh Reinerus Gemma-Frisius itu kemudian terwujud di dalam kamera yang disebut obscura.
                                                         Kamera Obscura (fineartamerica.)

Giambattista della Porta, seorang ahli fisika Italia, pada tahun 1569 telah memasang kamera abscura berukuran besar yang pertama. Komponen utama kamera obscura ini adalah sebuah kamar gelap. Di bagian atas kamar gelap itu terdapat lubang (dengan lensa bulat cembung) dan di atasnya terdapat pula sebuah cermin yang berada di sudut 45 derajat terhadap horison. Cahaya masuk ke kamar gelap melalui lubang tersebut. Sinar dari cahaya itu memantul secara vertikal ke bawah, dan jatuh ke permukaan meja besar berwarna putih.
Sejak prinsip-prinsip ’fotografi’ itu dinyatakan Al-Hazen pada abad ke-10, kemudian diikuti perkembangannya yang pesat pada abad ke-19, hingga hari ini fotografi tidak pernah berhenti memainkan dan meningkatkian perannya bagi kepentingan kehidupan manusia. Eksistensi fotografi yang semakin nyata bagi kehidupan manusia ini tidak bisa lepas dari jasa dua orang Perancis, Nicephore Niepce dan Jacques Mande Daguerre yang sejak 1811 telah berupaya menciptakan serta mengembangkan teknologi fotografi tersebut.
Nicephore Niepce, seorang mantan perwira tentara Napoleon Bonaparte, seusai tugas perang pada tahun 1811 mulai melakukan serangkaian peneloitian dan percobaan. Penelitian yang dilakukannya antaralain mencoba sejumloah bahan kimia yang memiliki sifat sangat sensitif terhadap cahaya. Niepce juga melakukan penelitian dan percobaan untuk menangkap serta menyimpan cahaya di dalam kamera obscura kecil. Dan, Niepce pulalah yang pertama kali memperkenalkan istilah ”fotografi” yang dikenal hingga hari ini.
Dalam perjalanan kreatifnya Niepce kemudian bertemu dengan Jacques Mande Daguerre. Daguerre, seorang dekorator dan pekerja seni itu, ternyata memiliki ketertarikan yang sama dengaqn Niepce. Ia juga telah melakukan serangkaian percobaan yang berkaitan dengan pemanfaatan cahaya. Keduanya pun sepakat bekerjasama untuk menghasilkan suatu karya teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan manus8ia. Setelah bekerjasama dengan Niepce, sejak tahun 1831 Daguerre tidak henti-hentinya bekerja keras untuk mendapatkan proses pembuatan gambar yang kekal pada pelat perak. Usaha Daguerre tidak sia-sia, karena di tahun 1837 ia berhasil menemukan pengaruh air raksa terhadap gambar-gambar kekal di atas piringan-piringan diodide perak. Dua tahun kemudian, tepatnya di tahun 1839, cata atau proses tersebut diberi nama ”Daguerreotype”.
Bersamaan dengan penemuan ”Daguerreotype” itu, Niepce pun berhasil menyempurnakan kamera obscura yang dimilikinya. Kamera yang sudah disempurnakan itu berbentuk sebuah kotak persegi panjang, berukuran enam inci dari dinding belakangnya. Di dalamnya terdapat piringan yang sensitif terhadap cahaya, hasil temuan Daguerre. Sayangnya, Niepce tidak bisa berlama-lama menikmati hasil jerih-payahnya bersama Daguerre itu, karena dua tahun kemudian ia meninggal dunia.
Perkembangan fotografi berikutnya ditandai dengan upaya Willian HF Talbot yang di tahun 1839 itu juga mencoba proses pembuatan gambar yang memakai bahan lebih peka terhadap kertas. Upaya ini disusul kemudian oleh seorang profesor di Universitas New York, Amerika, John W Draper, yang pada tahun 1840 telah membuat gambar wajah manusia dengan proses pencahayaan yang hanya memakan waktu selama lima menit.
Sejarah perjalanan dan perkembangan fotografi berikutnya antaralain: dibuatnya kamera metal yang pertama oleh Fiedrich Voigtlander pada tahun 1840, kemudian di tahun 1884 seorang ilmuwan Amerika, George Eastman, menemukan film fotografi yang menggunakan seluloid, yakni bahan ’plastik’ pertama buatan manusia. Seluloid ini pertama kali ditemukan oleh Alexander Parkes, seorang ahli kimia Inggris, di tahun 1856.  Keberhasilan Eastman tidak berhenti disitu. Tahun 1891, bersama mitra kerjanya Hannibal Goodwin, ia telah memperkaya dunia fotografi lagi dengan memperkenalkan satu rol film yang dimasukkan ke dalam kamera dan digunakan pada siang hari. Sebelum itu, pada bulan Junmi 1888 Eastman telah memperkenalkan pula kamera berukuran kecil, yang disebutnya kotak ”Kodak”. Kamera Kodak temuan Eastman di masa itu, merupakan peralatan fotografi yang luar biasa. Kamera ini memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak terdapat pada peralatan sebelumnya.
George Eastman memang telah membawa perkembangan yang besar  dalam dunia fotografi. Temuannya tentang rol film, kemudian dikembangkan oleh Eastman’s American Film dengan memproduksi rol kertas tipis yang dilapisi emulsi gelatin. Kemajuan teknologi fotografi ditandai lagi dengan dibuatnya film negatif yang terjadi setelah dipisahkannya emulsi dari kertas yang tidak tembus cahaya. Penemuan film negatif ini membawa perkembangan teknologi kamera semakin pesat. Para ahli pun kemudian menciptakan kamera-kamera dalam ukuran yang lebih kecil, praktis dan ringan. Kamera pun tidak hanya bermerek ”Kodak” temuan George Eastman itu, tapi bermacam-macam merek kamera kini telah memenuhi dunia fotografi.
Kemajuan teknologi telah membawa kemajuan yang sangat pesat di dunia fotografi. Dari tahun ke tahun teknologi fotografi mengalami kemajuan-kemajuan yang pesat dan mencengangkan. Kini fotografi sudah memasuki era teknologi digital. Hal ini ditandai dengan terdapatnya beragam bentuk dan merek kamera digital, yang membuat teknologi fotografi menjadi lebih praktis lagi.

Peran Fotografi
Tidak dapat disangkal lagi, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan seni, fotografi memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia.  Kemajuan teknologi telah membawa fotografi masuk dan merambah ke berbagai bidang kehidupan, dari hal-hal yang bersifat formal sampai ke komersial. Dari kehidupan yang bersifat pribadi, sampai ke kehidupan kelompok atau komunal yang luas. Bahkan, fotografi tidak hanya masuk ke dalam kepentingan-kepentingan individual atau orang-perorang, tetapi juga telah masuk ke bidang-bidang yang berkaitan dengan kepentingan negara, dari hal yang bersifat rahasia sampai terbuka.
Fotografi tidak hanjya bermanfaat bagi kepentingan kehidupan pribadi orang-perorang sesuai dengan fungsinya 'mendokumentasikan peristiwa kehidupan', tetapi juga berperan besar dalam bidang bisnis maupun sosial kemasyarakatan. Fotografi telah memainkan perannya yang besar di bidang komunikasi dan informasi lewat media massa atau jurnalistik. Juga memainkan perannya yang sangat strategis dalam dunia bisnis, misalnya lewat media periklanan, dan beragam hal lainnya. Karena itulah kemudian fotografi sering dikelompokkan pada bidang-bidang tertentu, seperti fotografi jurnalistik, fotografi periklanan, fotografi seni, fotografi ilmiah, fotografi pernikahan, dan lainnya lagi.
Begitu luasnya jangkauan 'wilayah' fotografi, membuat peminat atau pecinta fotografi (fotografer) tidak hanya terpaku pada kemampuan atau keahliannya di bidang fotografi saja, tetapi dituntut untuk memahami dan mempelajari bidang-bidang lain yang bersentuhan dengan bidang fotografi tersebut. Fotografer yang menggeluti fotografi jurnalistik atau wartawan foto, tentu dituntut kemampuannya untuk mengerti secara luas tentang dunia jurnalistik, termasuk di dalamnya prinsip-prinsip kerja jurnalistik tersebut. Begitu pula fotografer yang terlibat dalam kerja periklanan, tentu harus mampu memahami atau memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar periklanan. Dengan demikian, seorang fotografer dituntut memiliki wawasan atau pengetahuan yang luas tentangt beragam bidang kehidupan di sekitarnya.
                                                                                    (Sutirman Eka Ardhana)

Rabu, 17 September 2014

BANTUAN BUKU DARI KKN UNY 2014






                      BANTUAN BUKU DARI KKN UNY 2014
          Alhamdulillah, Rumah Baca "Pinggir Kali", pada 9 September 2014, mendapat bantuan buku dari mahasiswa KKN Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 2014 yang melaksanakan KKN di wilayah RW 13 Kelurahan Tegalpanggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta. Gambar di atas, ketika penyerahan bantuan buku sebanyak 60-an judul (eksemplar) tersebut berlangsung. Terimakasih, terimakasih, untuk semua jerih payahnya mengusahakan bantuan buku untuk TBM Rumah Baca "Pinggir Kali". Semoga, Allah membalas semua jerih payah mahasiswa-mahasiswa KKN UNY 2014 di RW 13 tersebut. Ayo, siapa yang akan menyusul?!

Sinematografi - (2) MENGENAL DAN MEMAHAMI FILM (II)


Sinematografi - (2)
 
MENGENAL DAN MEMAHAMI FILM
(II)
          Film Noncerita
Seperti halnya film cerita, film noncerita kini juga bias dikategorikan dalam berbagai jenis. Tetapi pada awalnya film noncerita hanya dikenal punya dua jenis, yakni film faktual dan film documenter.
Film faktual adalah suatu jenis film noncerita yang pada umumnya menyajikan fakta. Sekarang film faktual dapat dilihat dalam bentuk film berita (news reel) dan film dokumentasi.
Film berita meletakkan titik berat penyajiannya pada segi pemberitaan suatu peristiwa atau kejadian yang faktual. Contoh film berita dewasa ini dapat kita saksikan di tayangan-tayangan berita dalam siaran televise. Film berita ditayangkan setelah terlebih dulu melalui proses pengolahan.
Sedangkan film dokumentasi adalah film faktual yang hanya merekam suatu peristiwa atau kejadian tanpa melalui proses pengolahan lagi. Film dokumentasi merekam peristiwa dengan apa adanya. Contoh film dokumentasi ini misalnya dokumentasi mengenai kejadian perang, dan dokumentasi upacara kenegaraan.
 


 Film Dokumenter
Film dokumenter adalah film noncerita yang selain mempunyai unsur fakta tetapi juga mengandung unsur subyektifitas pembuatnya. Subyektifitas di dalam film dokumenter merupakan pendapat, pandangan, sikap atau opini terhadap peristiwa yang direkam.
Dengan demikian peran pembuatnya (produser/sutradara) memiliki arti penting bagi keberadaan serta keberhasilan proses pembuatan film dokumenter. Dalam film dokumenter, faktor manusia (pembuat) mempunyai peran yang besar dan penting. Sebab persepsi tentang suatu kenyataan atau realitas yang ada sangat bergantung pada pembuatnya.
Sejarah keberadaan film dokumenter diawali pada tahun 1920-an. Hal itu ditandai dengan dengan munculnya pemikiran tentang pembuatan film dokumenter tersebut. John Grierson dari Inggris merupakan tokoh yang pertama kali memperkenalkan istilah film dokumenter. Istilah itu diperkenalkan Grierson ketika ia membicarakan atau membahas sebuah film karya Robert Flaherty (Amerika Serikat) berjudul “Moana”, yang diproduksi pada tahun 1926.
Grierson kemudian sangat berperan penting dalam mengembangkan pembuatan film dokumenter di Inggris dan Kanada. Ketertarikan Grierson terhadap film dokumenter karena menurutnya film dokumenter merupakan perlakuan yang kreatif terhadap suatu peristiwa.
Joris Ivens, seorang pembuat film dokumenter kenamaan dari Belanda berpendapat bahwa film dokumenter memiliki kekuatan utama yang terletak pada rasa keotentikannya. Dengan kata lain, film dokumenter bukanlah merupakan suatu cerminan pasif dari kenyataan, melainkan adanya proses penafsiran terhadap kenyataan itu sendiri.
Selain jenis faktual dan film dokumenter, di dalam ‘keluarga besar’ film noncerita masih terdapat jenis-jenis lain, seperti film pariwisata, film iklan, film pendidikan, dan lain-lain.

Film Eksperimental
Film eksperimental merupakan film yang proses pembuatannya tidak menggunakan kaidah-kaidah pembuatan film yang semestinya. Misalnya, kaidah-kaidah yang pasti ditemukan dalam setiap pembuatan film cerita maupun film noncerita.
Tujuan pembuatan film eksperimental ini biasanya hanya untuk melakukan eksperimentasi-eksperimentasi serta mencari cara-cara penyampaian baru melalui media film.

Film Animasi
Film animasi merupakan film yang dibuat dengan menggunakan atau memanfaatkan gambar-gambar (lukisan) ataupun benda-benda tidak bergerak lainnya. Benda-benda tidak bergerak itu misalnya boneka, baik itu boneka manusia maupun boneka binatang, yang bisa dihidupkan atau digerakkan dengan proses animasi.
Prinsip pembuatan film animasi (teknik animasi) tidak berbeda dengan teknik pembuatan film yang menggunakan subyek benda-benda bergerak atau hidup, yakni memerlukan 24 gambar (bisa juga kurang) perdetiknya dalam menciptakan ilusi gerak.

Kenapa Film Diproduksi?
Kebanyakan produser atau pembuat film berpandangan bahwa film merupakan suatu komoditi bisnis yang besar, menggiurkan dan menguntungkan. Karena, setelah selesai diproduksi atau dibuat, maka film (terutama film cerita) bias dibisniskan atau dipasarkan dengan berbagai cara ke publik. Pemasaran film itu ke publik atau masyarakat luas tentu saja dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dari publik itu sendiri, yang kemudian dari perhatian besar dari publik itu akan dihasilkan suatu keuntungan bisnis.
Meskipun begitu, tidak semua produser atau pembuat film yang semata-mata hanya berpikir pada segi bisnis dan keuntungan saja. Sebab tidak sedikit juga produser atau pembuat film yang masih mau mengedepankan dorongan kultural atau idealisme.
Pertimbangan komersial atau bisnis akan terlihat nyata pada film-film cerita. Hal ini terjadi dikarenakan proses pembuatan film cerita memang menggunakan modal yang relatif besar. Kebanyakan produser tentu tidak ingin modal besar yang sudah dikeluarkan untuk proses produksi film tersebut hilang sia-sia.
Selain itu bila dilihat dari aspek ekonomi dan teknologi, maka produksi film memang harus dikelola sebagai suatu usaha industri. Hal seperti ini harus dilakukan, karena selain menggunakan atau melibatkan modal yang besar, pembuatan film juga melibatkan tenaga kerja yang banyak. Tenaga-tenaga kerja yang dilibatkan itu pun dari berasal dari berbagai latar belakang keahlian.
Disamping itu, kerja produksi film membutuhkan tujuan maupun sistem kerja yang tertata dan jelas, perencanaan yang matang, serta jadwal kerja yang pasti pula. Manajemen kerjanya harus benar-benar rapi dan terkoordinasi. Masing-masing bagian dalam manajemen kerja produksi film tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Bagian satu dengan lainnya saling berkaitan dan berhubungan.
Untuk sampai ke publik, film yang diproduksi harus terlebih dulu melalui suatu proses mata rantai yang panjang. Setelah selesai diproduksi, film terlebih dulu akan dibawa ke bagian distribusi. Bagian distribusi ini bertugas untuk mengedarkan dan memasarkan film tersebut. Setelah di bagian distribusi (peredaran), film kemudian baru masuk ke tahapan pertunjukan di bioskop-bioskop (ekshibisi).
Dari proses perencanaan film sampai ke pemutaran di bioskop-bioskop, setidaknya dilibatkan lebih dari 200 profesi pekerja. Dari para kreator di proses produksi, pengedar film, pembuat poster film, tukang putar film (proyeksionis) sampai ke penjual karcis bioskop.
 Dalam proses pembuatan film, para produser yang bekerja dengan system industri berusaha membangun studio-studio film. Segala aktivitas pembuatan film, dari pra produksi sampai ke pelaksanaan syuting dan tahap penyelesaian akhir dikerjakan di studio film tersebut.

Mengapa Film Ditonton?
Menurut Marseli Sumarno (Dasar-dasar Apresiasi Film), ada tiga alasan mengapa film ditonton, yakni alasan umum, alasan khusus dan alasan utama.
Alasan umum – Film berarti bagian dari kehidupan modern dan tersedia dalam berbagai wujud, seperti di bioskop, dalam tayangan televisi, bentuk kaset video, dan piringan laser (laser disc).
Sebagai bentuk tontonan, film memiliki waktu putar tertentu. Rata-rata satu setengah jam sampai dengan dua jam. Selain itu, film bukan hanya menyajikan pengalaman yang mengasyikkan, melainkan juga pengalaman hidup sehari-hari yang dikemas secara menarik.
Alasan khusus – Karena ada unsur dalam usaha manusia untuk mencari hiburan dan meluangkan waktu. Selain itu, karena film tampak hidup dan memikat, disamping menonton film dapat dijadikan bagian dari acara-acara kencan dalam kehidupan manusia.
Alasan utama – Seseorang menonton film untuk mencari nilai-nilai yang memperkaya batin. Setelah menyaksikan film, seseorang memanfaatkannya untuk mengembangkan suatu realitas rekaan sebagai bandingan terhadap realitas nyata yang dihadapi.
Jadi, seperti kata Marseli, film dapat dipakai penonton untuk melihat hal-hal di dunia ini dengan pemahaman baru. –
      (sutirman eka ardhana)  

Sinematografi- (1) MENGENAL DAN MEMAHAMI FILM (I)


Sinematografi- (1)
 
MENGENAL DAN MEMAHAMI FILM
(I)
               Sejarah Film
          FILM yang ditemukan pada akhir abad ke-19 dan terus berkembang hingga hari ini merupakan ‘perkembangan lebih jauh’ dari teknologi fotografi. Perkembangan penting sejarah fotografi telah terjadi di tahun 1826, ketika Joseph Nicephore Niepce dari Perancis membuat campuran dengan perak untuk membuat gambar pada sebuah lempengan timah yang tebal.
Teknologi fotografi tidak berhenti sebatas penemuan Niepce itu. Tapi dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan yang mengagumkan. Salah satu dari perkembangan mengagumkan dari teknologi fotopgrafi itu adalah munculnya rintisan penciptaan film atau gambar hidup. Tokoh penting dalam rintisan penciptaan film atau gambar hidup itu Thomas Alva Edison dan Lumiere Bersaudara.
Thomas Alva Edison (1847-1931) seorang ilmuwan Amerika Serikat penemu lampu listrik dan fonograf (piringan hitam). Pada tahun 1887, Edison tertarik untuk membuat alat untuk merekam dan membuat (memproduksi) gambar. Edison tidak sendirian. Ia kemudian dibantu George Eastman. Eastman pada tahun 1884 menemukan pita film (seluloid) yang terbuat dari plastik tembus pandang. Tahun 1891 Eastman dibantu Hannibal Goodwin memperkenalkan satu rol film yang dapat dimasukkan ke dalam kamera pada siang hari.
Alat yang dirancang dan dibuat oleh Thomas Alva Edison itu disebut kinetoskop (kinetoscope) yang berbentuk kotak berlubang untuk menyaksikan atau mengintip suatu pertunjukan. Pertunjukan kinetoskop diperkenalkan pertamakali di New York, Amerika Serikat, tahun 1894.
Lumiere Bersaudara yakni dua kakak-beradik Ausguste Lumiere dan Louis Lumiere dari Perancis merupakan pengagum dan penonton setia kinetoskop. Tapi Lumiere Bersaudara tidak hanya ingin sekadar menjadi pengagum dan penonton. Mereka adalah penonton kreatif. Dari menonton kinestokop itu justru muncul gagasan cemerlang keduanya yaitu membuat pertunjukan untuk alat kinestoskop tersebut.
Keduanya kemudian merancang peralatan baru yang mengkombinasikan kamera, alat memproses film dan proyektor menjadi satu. Lumiere Bersaudara menyebut peralatan baru untuk kinetoskop itu dengan “sinematograf” (cinematographe). Peralatan sinematograf ini kemudian dipatentkan pada tahun 1895. Pada peralatan sinematograf ini terdapat mekanisme gerakan yang tersendat (intermittent movement) yang menyebabkan setiap frame dari film diputar akan berhenti sesaat, dan kemudian disinari lampu proyektor.
Di masa awal penemuannya, peralatan sinematograf tersebut telah digunakan untuk merekam adegan-adegan yang singkat. Misalnya, adegan kereta api yang masuk ke stasiun, adegan anak-anak bermain di pantai, di taman dan sebagainya.
Perkembangan gemilang dalam sejarah perjalanan film ditandai dengan langkah Lumiere Bersaudara yang memproyeksikan pertamakali hasil karya mereka ke hadapan publik pada 28 Desember 1895, di ruang bawah tanah sebuah kafe di Paris. Pada hari itu, publik yang menyaksikannya masuk dengan membeli karcis. Tanggal 28 Desember 1895 itu merupakan hari bersejarah, karena merupakan hari kelahiran bioskop yang pertama di dunia.
Langkah yang dilakukan Lumiere Bersaudara yakni menghadirkan konsep pertunjukan bioskop atau penayangan film ke layar dalam suatu ruangan yang gelap, pelan tapi pasti, terus berkembang ke berbagai penjuru dunia. Sekitar sepuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1905, tempat pemutaran film (bioskop) yang disebut nickelodeon muncul dan berkembang subur di Amerika Serikat. Film-film awal yang dipertontonkan kepada publik adalah film-film yang waktu putarnya sangat singkat, sekitar 10 menit. Meskipun waktu putar atau tayangnya singkat, tapi film itu sudah menampilkan unsur cerita di dalamnya.
Sekalipun film merupakan kelanjutan dari fotografi, namun keduanya memiliki perbedaan yang hakiki. Foto (karya fotografi) tidak menampakkan ilusi gerak. Sementara film menampilkan ilusi gerak.

                                           The Jazz Singer (www.dirtbunny.net)



Perjalanan Film
Sejak ditemukan, perjalanan film terus mengalami perkembangan besar bersamaan dengan perkembangan atau kemajuan-kemajuan teknologi pendukungnya. Pada awalnya hanya dikenal film hitam putih dan tanpa suara atau dikenal dengan sebutan “film bisu”. Masa film bisu berakhir pada tahun 1920-an, setelah ditemukannya film bersuara. Film bersuara pertama diproduksi tahun 1927 dengan judul “Jazz Singer”, dan diputar pertama kali untuk umum pada 6 Oktober 1927 di New York, Amerika Serikat. Kemudian menyusul ditemukannya film berwarna di tahun 1930-an.
Di awal-awal kehadirannya, film hanya dipandang sebagai karya tiruan mekanis dari kenyataan. Atau sering juga dipandang hanya sebagai sarana untuk memproduksi karya-karya seni yang sudah ada, seperti teater, pertunjukan musik, dan lainnya.
Tokoh-tokoh penting dalam perjalanan awal sejarah film dapat dicatat antaralain nama George Melies (Perancis), Edwin S. Porter (juru kamera Thomas Alva Edison), DW Griffith dari Amerika Serikat, RW Paul dan GW Smith (Inggris).
Dalam perkembangan-perkembangan berikutnya para penggiat film melakukan gerakan menggiring atau berusaha menjadikan film sebagai suatu karya seni. Gerakan-gerakan film seni terus berkembang di Jerman,Perancis, Rusia, Swedia, Italia dan Amerika Serikat sendiri.
Eksistensi film sebagai suatu karya seni semakin diakui setelah seniman-seniman film muncul di banyak Negara. Tokoh-tokoh seniman film itu di antaranya Akira Kurosawa (Jepang), John Ford (AS), Federico Fellini (Italia), Satyajit Ray (India), Ingmar Bergman (Swedia) dan Usmar Ismail (Indonesia).

Jenis Film
Film pada dasarnya bisa dikelompokkan dalam dua jenis atau kategori. Pertama, film cerita (film fiksi). Kedua, film noncerita (film nonfiksi).
Film cerita merupakan film yang dibuat atau diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang dan dimainkan oleh actor dan aktris.
Kebanyakan atau pada umumnya film cerita bersifat komersial. Pengertian komersial diartikan bahwa film dipertontonkan di bioskop dengan harga karcis tertentu. Artinya, untuk menonton film itu di gedung bioskop, penonton harus membeli karcis terlebih dulu. Demikian pula bila ditayangkan di televisi, penayangannya didukung dengan sponsor iklan tertentu pula.
Sedangkan film noncerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya.
Film cerita dan film noncerita ini dalam perkembangannya saling mempengaruhi satu sama lain, yang kemudian melahirkan berbagai jenis film lainnya yang mempunyai cirri, gaya dan corak masing-masing.

Film Cerita
Film cerita mempunyai berbagai jenis atau genre. Genre diartikan sebagai jenis film yang ditandai oleh gaya, bentuk atau isi tertentu.
Jenis-jenis film tersebut ada yang disebut jenis film drama, film horror, film perang, film musical, film koboi, film sejarah, film komedi, dan film fiksi ilmiah. Meskipun begitu penggolongan jenis film tidaklah kaku atau ketat. Sebab sebuah film dapat saja dimasukkan ke dalam beberapa jenis.
Film cerita yang pertama kali diproduksi di Indonesia, menurut catatan Sinematek Indonesia adalah film berjudul “Loetoeng Kasaroeng” yang dibuat pada tahun 1926. Film cerita pertama ini dibuat oleh G. Kruger, seorang indo-Jerman di Bandung.
Dua nama besar dalam dunia perfilman nasional yang juga disebut sebagai perintis industri film nasional di tahun 1950-an yang telah menghasilkan sejumlah film cerita terkemuka adalah Usmar Ismail dan Djamaludin Malik.
Menurut Marseli Sumarno, setiap pembuat film hidup dalam masyarakat atau dalam lingkungan budaya tertentu, sehingga proses kreatif yang terjadi merupakan pergulatan antara dorongan subyektif dan nilai-nilai yang mengendap di dalam diri. Hasil pergulatan ini akan muncul sebagai karya film (lihat – Dasar-dasar Apresiasi Film, Grasindo).
Karya film, masih menurut Marseli, di satu pihak tetap mengandung subyektifitas, dan dapat menunjukkan gaya atau warna keseniman, di pihak lain bersifat obyektif, yang bisa diapresiasikan oleh orang lain.
Terhadap film cerita yang perlu dilihat adalah sejauhmana pembuat film dapat meramu dorongan subyektif dalam menggunakan bahan dasar berupa cerita. Film cerita lalu dapat diartikan sebagai pengutaraan cerita atau ide, dengan pertolongan gambar-gambar, gerak dan suara.
Jadi, cerita adalah bungkus atau kemasan yang memungkinkan pembuat film melahirkan realitas rekaan yang merupakan suatu alternative dari realitas nyata bagi penikmat atau penontonnya. Dari segi komunikasi, ide atau pesan yang dibungkus oleh cerita itu merupakan pendekatan yang bersifat membujuk atau persuasif.
Akan tetapi, masih menurut Marseli Sumarno, tentu saja cerita bukan segala-galanya dalam produksi film cerita. Terdapat sejumlah unsur lain yang menunjang keberhasilan. Misalnya, para pemain yang mampu tampil meyakinkan, penyuntingan yang mulus, dan penyutradaraan yang jitu.
Dalam pembuatan film cerita, Marseli menekankan pentingnya proses pemikiran dan proses teknis. Proses pemikiran berupa pencarian ide, gagasan, atau cerita yang akan digarap. Sedangkan teknis berupa keterampilan artistic untuk mewujudkan segala ide, gagasan atau cerita menjadi film yang siap ditonton. Karenanya film cerita dapat dipandang sebagai wahana penyebaran nilai-nilai. –(sutirman eka ardhana)

Jumat, 06 Juni 2014

KISI-KISI UAS 2014 MANAJEMEN MEDIA MASSA



          KISI-KISI UAS 2014
          MANAJEMEN MEDIA MASSA


1.      Coba simak pertemuan ke-8 yang berbicara tentang Manajemen Media Penyiaran (1). Dalam pertemuan ini antaralain disebutkan bahwa anak-anak Indonesia yang lahir sekitar tahun 70-an akhir atau 80-an awal hingga kini disebut sebagai ‘generasi TV’. Generasi TV adalah generasi yang perilaku, sikap, gaya hidup dan presepsi-presepsi hidupnya telah dibentuk oleh televise. Kondisi masyarakat yang seperti inilah yang menjadi acuan para pengelola media televisi dalam memenej media televisi mereka.
2.      Masih di pertemuan ke-8, simak uraian yang menyatakan bahwa aktivitas manajemen dalam media penyiaran tidak bisa lepas dari apa yang ingin dilakukan dan didapatkan dari publik (masyarakat). Aktivitas manajemen media penyiaran terutama televisi juga tidak bisa lepas dari fungsi-fungsi dan perannya dalam kehidupan masyarakat. Salah satu peran penting (besar) media televisi adalah mampu mempengaruhi perilaku kehidupan masyarakat. Media TV diyakini mempunyai kemampuan ‘membujuk’ atau ‘mempengaruhi’ masyarakat untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Kemampuan membujuk dan mempengaruhi itulah yang menjadi sumber inspirasi bagi pengelola media TV dalam memenej dirinya atau memenej program-program tayangannya.
3.      Coba simak lagi pertemuan ke-9 tentang Manajemen Media Penyiaran (2). Dalam pertemuan ini antaralain dijelaskan tentang struktur organisasi pada media TV. Di dalam struktur organisasi media televisi, jabatan tertinggi adalah Manajer Stasiun (MS). Dalam melaksanakan kerjanya MS dibantu beberapa manajer bidang. Setidak di banyak media TV terdapat empat manajer bidang, yakni Manajer Program, Manajer Teknik, Manajer Miscellaneous dan Manajer Bisnis dan Pemasaran. Masing-masing mempunyai wilayah tanggungjawab yang berbeda tapi saling mendukung. Manajer Program misalnya akan bertanggungjawab pada sub-sub bidang seperti pemberitaan (jurnalistik penyiaran), animasi dan image, produksi, directing, scene dan seni, naskah/writing, editing dan manajemen produksi. Dan, masing-masing sub bidang itu dipimpin oleh coordinator (direktur). Sedang Manajer Bisnis dan Pemasaran bertanggungjawab terhadap sub-sub bidang administrasi, pemasaran (marketing), dan keuangan (accounting).
4.      Simak juga hal tentang produser. Dalam pertemuan ini disinggung juga tentang tugas seorang produser yang terdapat di dalam tatanan organisasi kerja di media televisi terutama di Bidang Program. Disebutkan, produser merupakan jabatan yang bertanggungjawab dalam pengelolaan manajemen produksi penyiaran. Tugas utamanya memproduksi naskah program yang ditulis oleh penulis naskah.     
5.      Simak ulang pertemuan ke-11 yang berbicara tentang Manajemen Radio. Dalam pertemuan ini antaralain dijelaskan, bahwaada yang berbeda dalam manajemen stasiun radio di era Orde Baru dengan era sekarang (pasca reformasi). Di era Orde Baru, radio swasta (radio siaran swasta nasional) tidak diperbolehkan memproduksi siaran berita sendiri. Radio swasta diharuskan merelay siaran berita dari RRI (Radio Republik Indonesia), dalam sehari-semalam setidaknya sekitar enam kali. Setelah era Orde Baru berakhir, stasiun radio swasta mendapatkan kebebasan untuk memproduksi siaran berita sendiri. Dan, tidak lagi ada keharusan merelay siaran berita RRI. Kebebasan memproduksi siaran berita sendiri membuat manajemen radio swasta tidak lagi hanya sebatas memenej atau menangani produksi-produksi siaran hiburan (musiik, dll) dan iklan, tetapi juga menangani produksi siaran berita. Karena itulah sekarang di banyak radio swasta terdapat divisi atau bagian pemberitaan (news).
6.      Dalam pertemuan ke-11 itu juga dijelaskan, dengan adanya kebebasan memproduksi siaran berita sendiri itu maka sumber daya manusia (SDM) di radio swasta pun bertambah dengan kehadiran wartawan atau jurnalis. Maka di struktur organisasi kerjanya terdapatlah jabatan (posisi) redaktur dan reporter (wartawan radio). Seperti halnya tugas watrtawan pada umumnya, wartawan radio bertugas mencari, meliput dan membuat berita untuk disiarkan.
7.      Simak lagi pertemuan ke-12 yang membahas tentang Manajemen Media Massa dalam Aspek Ekonomi. Dalam pertemuan ini antaralain dijelaskan bahwa pengelolaan media massa dewasa ini tidak bisa lepas dari dua pertimbangan (alasan) utama, yakni pertimbangan idealisme dan pertimbangan komersial. Pertimbangan idealisme adalah pertimbangan dasar yang menjadi prinsip kerja media massa dalam melaksanakan fungsi-fungsinya yakni menyampaikan informasi, mendidik, menghibur dan alat kontrol social. Sedang pertimbangan komersial adalah pertimbangan yang didasarkan pada nilai untung-rugi untuk suatu kepentingan atau target dan tujuan yang ingin dicapai. Dan, pertimbangan komersial ini dapat dibagi lagi dalam aspek, yakni aspek ekonomi dan aspek politik.
8.      Dalam pertemuan ke-12 ini dijelaskan juga betapa aspek ekonomi memiliki peran penting dalam proses pengelolaan media-massa. Produk-produk media massa, baik itu media pers cetak maupun media penyiaran, semua diproduksi dengan senantiasa memperhatikan aspek ekonomi tersebut. Persoalan untung-rugi menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan. Karena keberhasilan media massa dewasa ini diukur dengan keberhasilan pada aspek ekonomi tersebut.
9.      Jangan lupa simak pula pertemuan ke-13 yang membahas tentang Manajemen Media Massa dalam Aspek Politik. Dalam pertemuan ini dijelaskan bahwa selain aspek ekonomi (bisnis), aspek politik juga sangat mempengaruhi model manajemen media massa. Dijelaskan, aspek politik yang menjadi pertimbangan dalam menentukan arah atau format pengelolaan media massa itu ditentukan setidaknya oleh tiga alasan/pertimbangan. Yakni, (1). Alasan fungsi dan peran politik media massa; (2). Alasan kepentingan politik yang ingin dicapai oleh media massa; (3). Alasan peraturan hukum dan politik hokum yang berlaku.
10.  Masih di pertemuan ke-13, dijelaskan bahwa karena alasan kepentingan politik yang ingin dicapai, tidak jarang media massa mengabaikan sejumlah hal yang seharusnya menjadi prinsip kerja dalam penyampaian informasinya. Misalnya, media pers cetak mengabaikan etika-etika jurnalistik dan prinsip-prinsip fairness dalam jurnalistik. Demikian pula media penyiaran mengabaikan etika-etika penyiaran, serta prinsip-prinsip keseimbangan dan keadilan dalam penyampaian informasi serta produksi-produksi tayangan lainnya. +++